BANDA ACEH I ACEHHERALD – Ada ada saja! Akhirnya terkuak juga penyebab sebenarnya gagalnya laga tuan rumah Persiraja ‘Lantak Laju’ Banda Aceh dengan rival abadinya PSMS ‘Ayam Kinantan’ Medan. Dari laporan Pengawas Pertandingan dan Venue Delegate ke PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator Liga 2 yang ditunjuk oleh PSSI, terungkap jika penyebab laga gagal karena mati lampu, akibat genset abeh minyeuk alias BBM genset habis. Suatu fenomena yang benar benar membuat miris dan prihatin sekaligus mengurut dada.
Atas kejadian yang terlalu naif untuk turnamen sepakbola seklas Liga 2 itu, PT LIB menghukum Persiraja dengan status WO aau kalah 3-0, tanpa laga. Mati lampu itu sendiri berlangsung sekira pukul 20.24 WIB, atau enam menit sebelum peluit kick off tanda dimulainya laga.
Dalam surat keputusan yang ditandatangani oleh Direktur Utama PT LIB, Ahmad Hadian Lukita tertanggal 05 September 2022 malam itu disebutkan, sesuai hasil rapat Komite Ad Hoc Kompetisi yang dipimpim lansung Ketua PSSI, Komjen (Purn) Mochammad Iriawan dan anggotanya, memutuskan menerima seluruh laporan serta fakta uraian kejadian yang disampaikan oleh para pihak, yaitupengawas pertandingan dan venue delegate.
Keputusan itu adalah Klub Persiraja Banda Aceh dinyatakan kalah 0-3, sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Jo Pasal 18 Regulasi Kompetisi Liga 2- 2022/2023. Keputusan Komite Ad-Hoc Kompetisi mempunyai kedudukan sebagai keputusan yang mengikat dan berlaku efektif sejak diputuskan Komite Ad-Hoc Kompetisi, pada hari Senin, 5 September 2022 dengan ketentuan akan diadakan perubahan jika kemudian hari terdapat kekeliruan.
Sementara sumber sumber acehherald.com menyatakan, manajemen Persiraja masih terbuka kemungkinan terkena sanksi lain. Misalnya denda karena gagal melaksanakan pertandingan, denda pertandingan tanpa penonton hingga denda larangan bertanding di kandang atau home. “Sangat terbuka dikenakan sanksi lainnya. Kita tunggu saja apa yang akan terjadi terhadap tim kebanggaan masyarakat Aceh itu,” kata sumber yang menolak disebutkan namanya.
Dalam nota surat keputusan itu juga terungkap jika Persiraja semula memohon kepada PT LIB untuk melaksanakan pertandingan itu di Stadion Harapan Bangsa pada pukul 16.00 WIB. Namun belakangan kembali dimohonkan agar laga dipindahkan ke Stadion Lampinueng, dengan waktu kick off pukul 20.30 WIB, dengan pertimbangan setelah penikmat bola melaksanakan shalat Isya, karena Aceh negeri bersyariat. Ternyata ujung ujungnya, laga yang ditunggu 10.000 penonton lebih itu, gagal dipentaskan hanya gara gara genset abeh minyeuk. Dan karena kesal serta emosi, sebagian penonton mengamuk dengan membakar arena stadion.
Selain itu, dua bench pemain juga rata dengan tanah, serta jaring gawang dirobek robek dan pagar keliling lapangan juga dirubuhkan. Semua itu hanya gara gara abeh minyeuk yang kadang harganya cuma Rp 3 juta. Sementara nilai kerusakan dipastikan mencapai ratusan juta rupiah.




