Elegi Kopi Gayo dan Drama Sawit

KABAR miris menyangkut kopi gayo, salah satu jenis kopi terbaik dunia dan menjadi andalan bahan baku jaringan starbuck, tiba tiba mencuat. Para buyer di eropa diakui menolak untuk membeli kopi arabika gayo, karena diklaim mengandung zat kimis beracun berupa Glyphosate, yang tak lain material herbisida atau racun rumput. Klaim negative buyer Eropa itu diungkapkan oleh … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

kopi gayo

KABAR miris menyangkut kopi gayo, salah satu jenis kopi terbaik dunia dan menjadi andalan bahan baku jaringan starbuck, tiba tiba mencuat. Para buyer di eropa diakui menolak untuk membeli kopi arabika gayo, karena diklaim mengandung zat kimis beracun berupa Glyphosate, yang tak lain material herbisida atau racun rumput.

Klaim negative buyer Eropa itu diungkapkan oleh Ketua Koperasi Ketiara, Rahmah, kepada media, medio pekan ini. Diakui atau tidak, inilah mimpi buruk bagi kopi arabika gayo yang selama ini menjadi primadona pasar dunia. Seperti diketahui, penghasil kopi terbesar dunia adalah Brazil, sementara Indonesia berada di posisi ke-4 di bawah Vietnam dan Kolombia.

Namun demikian, pamor kopi gayo mampu mengalahkan aroma kopi Amerika Latin  dan Vietnam sekalipun. Kopi arabika gayo mampu eksis di belantara pasar kopi Eropa. Buktinya seorang Frank Heijbuur yang pengusaha kopi Belanda sempat membudidayakan kopi arabika langsung di tanah gayo lewat proyek LTA 77, dengan nama produk Gayo Mountain Coffee. Heijbuur juga membeli kopi grade terbaik di Gayo untuk dipasarkan di Eropa. Era meneer Heijbuur berakhir setelah Pemerintah Aceh masuk ke Gayo lewat bendera PD Genap Mupakat yang akhirnya juga ambruk.

Penolakan pasar Eropa itu memang perlu dikaji lebih jauh, untuk dicarikan solusinya. Atau jangan jangan itu juga terkait dengan upaya mempermainkan harga kopi gayo di kalangan brooker kopi. Karena itu bisa saja terjadi.

Terlepas dari sinyalemen glysophate, kita harus menyadari, sebagian petani di negeri ini, termasuk ptani kopi tentunya, begitu akrab dengan racun rumput. Karena mau praktis dan tidak memakai jasa manusia yang bisa jadi lebih mahal. Namun upaya menghemat biaya budidaya itu berakibt fatal kepada tanaman, yakni terjadi residu pestisida pada tanaman termasuk kopi.

Baca Juga:  Nova Lantik Muzakkar A Gani Jadi Bupati Bireuen

Kita tak bisa menyalahkan petani sepenuhnya, karena pemerintah selaku pengawas dan pengayom rakyat, juga terkesan lepas tangan. Era keemasan penyuluh pertanian memang telah berlalu, seiring makin individualistisnya petani. Semua dikalkulasikan dengan rupiah, termasuk perlakuan prapanen yang booming pestisida. Hasilnya, ya……klaim yang bak mimpi buruk petani kopi.

Cerita miris petani kopi itu nyaris sama dengan  tragedi yang kini sedang diterima petani sawit di negeri ini. Lagi lagi hegemoni Eropa menjadi penyebab. Dengan dalih sawit tidak sehat dan tak ramah lingkungan, Parlemen Eropa memboikot sawit. Padahal, Eropa sebenarnya memproteksi produk sendiri, minyak kanola dan minyak bunga matahari.

Dalam drama sawit, Eropa memakai kaki tangannya di level lembaga non pemerintah, dengan dalih penyelamatan lingkungan. Akibatnya, industry sawit Indonesia yang jadi nomor satu dunia, kini sedang terjun bebas. Pemerintah Indonesia nyaris hanya beretorika dalam drama sawit dunia tersebut, tanpa ada tindakan nyata sebuah negara untuk melindungi 30 juta rakyatnya yang berkutat di industri sawit. Ibarat, petempur, pelaku sawit berperang sendiri tanpa dukungan amunisi dan logistic yang mumpuni.

Kita tak ingin tragedi sawit menimpa nasib petani kopi di Dataran Tinggi Gayo (Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues), karena itu sama dengan lonceng kematian bagi denyut ekonomi mereka. Dalam konteks ini, Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Aceh harus turun tangan. Bukan hanya mendriil kembali petani tentang budidaya kopi yang benar dan sesuai tuntutan pasar global, akan tetapi juga menelusuri isu glysophate itu, dan melakukan upaya kontra isu.

Nasib petani kopi harus diselamatkan. Kopi gayo tetap harus terus menjenguk pasar dunia. Dan jangan biarkan petani dan pelaku bisnis kopi beroerang sendiri di rimba pasar Eropa yang ganas dan penuh intrik. Bisa jadi ini juga bagian perang dagang untuk membungkam hegemoni kopi Indonesia—khususnya Aceh—di pasar global.

Baca Juga:  Gara Gara Rapid Test, Pasien Hepatitis Difardhukifayahkan Dengan Standar Covid

 

Nurdinsyam

Pemimpin Redaksi

Berita Terkini

Haba Nanggroe