
BANDA ACEH I ACEHHERALD.com –
FRAKSI Demokrat di Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) memastikan tidak akan menggunakan Hak Interpelasi terhadap Plt Gubernur Aceh, karena menilai masih ada cara atau negosiasi lain yang lebih elegant. “Tapi kami menilai itu memang hak dan wewenang yang dimiliki secara melekat oleh anggota DRPA, dan sah sah saja jika itu dilakukan oleh anggota DPRA,” tutur HT Ibrahim ST, Ketua Fraksi Demokrat di DPRA, tadi malam.
Menurut Ibrahim, jika interpelasi itu dikarenakan Nova tak hadir dalam acara Paripurna DPRA, ia menilai itu terlalu naif. Karena sejak pagi hari sebelum Sidang Paripurna digelar, Plt Gubernur sudah kirim surat secara resmi memberitahukan berhalangan, dan meminta ditunda pada kali lain. Karena ada kegiatan lain yang sudah diagendakan. “Kecuali tak ada surat pemberitahuan. Tapi sekalilagi, itu adalah hak anggota dewan. Tapi kami dari Demokrat menilai belum tepat dan belum masanya dilakukan Hak Interpelasi. Tapi bukan kami tak setuju,” tutur mantan angota DPRK Aceh Besar itu dalam nada diplomatis.
Ketika ditanya secara lebih lugas tentang sikap Fraksi Demokrat di DPRA, Ibrahim menyatakan sejauh ini fraksinya belum akan menggunakan Hak Interpelasi tersebut. “Masih ada celah atau peluang kita melakukan negosiasi dalam bentuk musyawarah dan mufakat. Justru kalau kita paksakan kehendak akhirnya interpelasi tak jalan, kerja eksekutif juga tak jalan. Lha…..yang rugi kan rakyat juga,” tutur anggota DPRA dua periode ini.
Di sisi lain saat ditanya keterkaitan Hak Interpelasi itu sebagai resultan dari rangkaian kekecewaan dewan atas sikap eksekutif, terkait proyek multi years, pansus Bank Aceh, serta pengesahan anggaran tahun 2020 yang terkesan dipaksakan, Ibrahim menilai itu tak relevan lagi, bahkan ada yang sudah turun aparat hukum. “Tapi sekali lagi yang namanya politik apapun bisa terjadi. Hanya saja yang kita sayangkan jika disharmoni ini terus begini, yang rugi adalah masyarakat. Intinya DPRA rugi, pemerintah rugi,masyarakat lebih berat lagi ruginya,” pungkas Ibrahim yan di kalangan koleganya sering disapa Pak Bram.
PENULIS : NURDINSYAM




