BI Dorong Peningkatan Kapasitas Perekonomian Aceh Via Hilirisasi Pertanian dan Pariwisata

Kita terus mendorong peningkatan perekonomian Aceh melalui pengembangan new sources of economic growth yang dapat di akselerasi dengan hilirisasi pertanian dan pariwisata
KPwBI Provinsi Aceh, Rony Widijarto P di Seminar Nasional, Road to AGASID 2023, Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Aceh dan Kajian ISEI. Foto Humas BI Aceh.

Iklan Baris

Lensa Warga

BANDA ACEH | ACEHHERALD.COM  – Pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan II 2023 masih lebih rendah dibanding Sumatera (4,90%, yoy) dan Nasional (5,17%, yoy). Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh penurunan kinerja pada sektor pertambangan sejalan dengan melambatnya kinerja ekonomi global serta melemahnya harga komoditas global.

“Kita terus mendorong peningkatan kapasitas perekonomian Aceh melalui pengembangan new sources of economic growth yang dapat di akselerasi dengan mendorong sektor hilirisasi pertanian dan pariwisata,” kata <span;>Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Aceh, Rony Widijarto P dalam rilis yang dikirim Humas BI Aceh, Rabu (27/9/2023).

Rony Widijarto menyebutkan bahwa luas panen padi di Sumatera secara keseluruhan terus menurun, termasuk di Provinsi Aceh. Meskipun demikian, mekanisasi dan produktivitas Provinsi Aceh merupakan yang terbaik dibandingkan provinsi lain se-Sumatera.

Pengembangan sektor pertanian dapat ditempuh melalui Pertanian IP 400 untuk meningkatkan produktivitas, serta pengembangan RMU menjadi skala lebih besar, ujarnya.

Diperlukan adanya pengembangan Aksesibilitas, Atraksi, Amenitas, serta Pelaku dan Promosi atau disingkat dengan 3A 2P guna mendorong kinerja pariwisata di Aceh.

Di samping itu, investasi merupakan salah satu faktor pendorong utama dalam upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Sayangnya pertumbuhan investasi di Aceh dalam 3 tahun terakhir relatif rendah, yaitu hanya memiliki pangsa 32,02% terhadap PDRB di tahun 2022. Sebagai perbandingan, pangsa investasi Aceh tersebut jauh di bawah Maluku Utara (74,52%) dan Sulawesi Tengah (49,45%) yang merupakan dua provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada tahun 2022.

Pada Agustus 2023, inflasi gabungan 3 Kota IHK di Provinsi Aceh tercatat sebesar -0,15% (mtm) atau 2,39% (yoy). Dengan realisasi inflasi tersebut, Aceh menjadi provinsi dengan inflasi terendah ke-2 se-Sumatera.

Inflasi Gabungan kota IHK di Provinsi Aceh terus menunjukkan perbaikan dan diperkirakan akan terus berada pada angka target inflasi nasional 3±1% sepanjang tahun 2023.

Baca Juga:  Hingga Mei 2023 Inflasi Aceh Sedang - sedang Saja di Angka 3,34%

Hal ini didorong oleh kolaborasi dan koordinasi antar anggota TPID di Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Aceh. Komoditas penyumbang inflasi masih didominasi oleh komoditas pangan seperti beras, daging ayam, dan bawang merah.

Dalam rangka mengendalikan stabilitas harga dengan menjaga tekanan inflasi pada rentang 3±1%, Bank Indonesia Provinsi Aceh bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus menggalakkan implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) serta sinergi mendorong Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Pertumbuhan Ekonomi Aceh

Pada Agustus 2023, inflasi nasional tercatat sebesar 3,27% (yoy) dan diyakini akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 3±1% sampai dengan akhir tahun 2023.

Sementara itu, p<span;>ada triwulan II 2023, Provinsi Aceh mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,37% (yoy), dan diperkirakan terus tumbuh pada kisaran 4,5% pada tahun 2023.

Pertumbuhan terjadi pada semua komponen pengeluaran, kecuali komponen Ekspor Barang dan Jasa yang menurun sebesar -2,77% (yoy).

Rony Widijarto menyebutkan pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen Konsumsi Pemerintah yaitu mencapai 23,20% (yoy), diikuti oleh komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 6,89% (yoy); komponen Konsumsi Lembaga Non-Profit sebesar 4,81% (yoy), dan komponen Konsumsi Rumah Tangga sebesar 3,31% (yoy).

Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Aceh

Rabu (27/9/2023), Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh menyelenggarakan kegiatan diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Aceh.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendiseminasikan hasil asesmen perkembangan ekonomi Aceh terkini dan mengkomunikasikan kebijakan Bank Indonesia dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi.

Selain agenda diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Aceh, pada kesempatan ini juga diselenggarakan seminar ekonomi nasional dengan tema “Strategi Memperbesar Kapasitas Ekonomi untuk Meningkatkan Kesejahteraan melalui Hilirisasi Pertanian dan Pariwisata”.

Baca Juga:  Kapan Qris Menembus Pengguna di Pelosok, Ini Penjelasan BI

Seminar ini merupakan hasil kerja sama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Banda Aceh dan Universitas Syiah Kuala.

Seminar ini juga menjadi salah satu rangkaian acara dari Road to AGASID (Aceh Gayo Sustainable Investment Dialogue), yang merupakan bentuk dukungan dan upaya Bank Indonesia Provinsi Aceh dalam mendorong investasi di sektor-sektor potensial yang ada di Provinsi Aceh guna mendorong akselerasi pertumbuhan perekonomian Provinsi Aceh.

Penyelenggaraan diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Aceh yang diikuti dengan Seminar Nasional tersebut diharapkan dapat melahirkan rekomendasi kebijakan yang berkualitas bagi Pemerintah Daerah sekaligus membangun sinergi dan kolaborasi untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Aceh melalui hilirisasi pertanian dan pariwisata.

Berita Terkini

Haba Nanggroe