Abah Junaidi: Jangan Menggabungkan Kurban dengan Aqiqah

“Karenanya jangan sesekali menggabungkan ibadah kurban dengan aqiqah dengan maksud dan tujuan apapun,” tegas Abah Junaidi.
Abah Junaidi saat mengisi pengajian di Balee Beut Meulioe Bupati Aceh Besar.

Iklan Baris

Lensa Warga

BANDA ACEH I ACEHHERALD.com- Bagi ummat Islam yang akan melaksanakan ibadah kurban dan aqiqah, dilarang menggabungkan keduanya di atas satu objek, termasuk diniatkan sekaligus. Karena esensi dari kurban dan aqiqah sangat sangat berbeda.

Hal itu diungkapkan Tgk Abah Junaidi saat memberi materi pengajian rutin pada Halaqah Malam Jumat di Balee Beut Meuligoe Bupati Aceh Besar, Kamis (06/06/2024) tadi malam. Menurut Abah, keduanya memiliki tujuan dan sebab yang berbeda. “Karenanya jangan sesekali menggabungkan ibadah kurban dengan aqiqah dengan maksud dan tujuan apapun,” tegas Abah Junaidi yang juga Imuem Chik Masjid Agung Almuwarrah Kota Jantho itu.

Dikatakan, kurban adalah esensi untuk berbagi, sementara aqiqah adalah sunnat untuk berbagi dalam bentuk makanan siap saji. “Jika kurban kita memberikan daging dan makanan yang telah dimasak, sementara kurban berbagi daging dari hewan yang telah disembelih atau belum dimasak. Ini yang perlu dipahami oleh semua kita, hingga tak terjebak dengan hal hal yang justru bertentangan dengan agama,” kata Abah yang juga pengasuh Dayah Mahadal Fata, Lamkabeu Seulimuem itu.

Dalam pengajian dengan pokok bahasan seputar aqiqah itu, Abah secara gamblang mengulas tentang waktu yang afdal untuk melaksanakan aqiqah, yaitu saat bayi baru berusia 7, 14 dan 21 hari. Namun setelah itu tetap bisa dilakukan, hingga sang buah hati tiba masa balikh. “Kalau sudah balikh, maka yang bersangkutan tak bisa lagi diniatkan aqiqah, karena ia telah punya ‘kewajiban’ untuk melaksanakan aqiqah bagi anaknya kelak,” tandas Abah Junaidi.

Dalam kesempatan itu juga dibahas tentang nama yang afdal bagi seorang umat muslim, karena itu juga menyangkut harkat dan kemuliaan bagi pemilik nama itu kelak. “Sangat afdal kalau dalam penamaan itu ada kata ‘Muhammad’ diantara abjad nama seseorang. “Carilah nama pada teungku atau orang berilmu, jangan malah menanyakan sama bidan yang menolong persalinan,” kata Abah.

Baca Juga:  Pemerintah Aceh Serahkan 24.225 Masker ke Pemda Aceh Selatan

Juga dijelaskan tentang fadhilah tentang disunatkannya bagi umat Islam untuk menyambut kelahiran bayinya dengan kumandang azan di sebelah kanan dan iqamah di kuping sebelah kiri. Hal itu juga untuk mencegah bayi dari gangguan penyakit psikologis, karena sang bayi telah mendengar kalimah tauhid sejenak ia lahir ke bumi Allah.

Terkait dengan nama juga Abah Junaidi mengingatkan agar tidak membiasakan diri dengan nama melaqabkan hayawan, seperti beruang, harimau atau kerbau sekalipun. “Hal itu termasuk makruh, dan bisa jatuh ke haram jika nama itu dengan niat melecehkan dan merendahkan orang lain,” pungkas Abah Junaidi seraya menngingatkan jamaahnya, tentang pentingnya puasa arafah dan hari tarwiyah.

Pengajian Balee Beut Meuligoe akan ditutup untuk pekan mendatang, karena menjelang hari raya  Idul Adha 1445 H. Setelah itu akan dibuka seperti biasa lagi.

Kata Kunci (Tags):
balee beut, meuligoe bupati aceh besar, abah junaidi, masjid almunawwarah, dayah mahadal fata

Berita Terkini

Haba Nanggroe