Almarhum Muhammad Basri Ternyata Seorang Pekerja Ulet

PEUREULAK I ACEHHERALD.com – Almarhum Muhammad Basri (37), yang tercatat warga Dusun Pande Desa Leuge Peureulak Aceh Timur, yang meninggal akibat pengeroyokan maut di kawasan Kelurahan Ciater, Kecamatan Serpong Tangerang, Banten, Jumat (08/05/2020) dinihari, ternyata seorang pekerja ulet. Wartawan Acehherald.com, Ridwan Suud, dari Peureilak melaporkan, sebelum merantau ke Jakarta, pemuda kelahiran Teupin Gajah Kecamatan Tanah … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Rumah yang oernah disewa oleh Almarhum Muhammad Basri saat menetap di Leugeu Peureulak. Foto Ridwan Suud

PEUREULAK I ACEHHERALD.com – Almarhum Muhammad Basri (37), yang tercatat warga Dusun Pande Desa Leuge Peureulak Aceh Timur, yang meninggal akibat pengeroyokan maut di kawasan Kelurahan Ciater, Kecamatan Serpong Tangerang, Banten, Jumat (08/05/2020) dinihari, ternyata seorang pekerja ulet.

Wartawan Acehherald.com, Ridwan Suud, dari Peureilak melaporkan, sebelum merantau ke Jakarta, pemuda kelahiran Teupin Gajah Kecamatan Tanah Jambo Aye Aceh Utara Juli 1983 yang kini telah almarhum itu, pernah menetap di Kota Peureulak selama delapan tahun.  Dengan menyewa rumah di Peureulak selama menetap di sana.

Selama delapan tahun itu pula, almarhum Muhammad Basri menggeluti usaha dagang pakaian  di Kota Peureulak. Karena tidak punya toko, almarhum memilih jualan di kaki lima dengan mengandalkan payung sebagai atap lapak jualan.

Safrizal, salah seorang rekan almarhum sesama pedagang kain di Peureulak, kepada Acehherald.com, Sabtu (09/05/2020) sore mengaku, kalau almarhum Muhammad Basri memang dikenal baik dan pekerja ulet. “Kami sangat tidak percaya jika almarhum maling motor, itu jelas tak mungkin, ini murni tindak criminal kepada almarhum yang tak bersalah,” ujar Safrizal, sembari berharap pihak terkait di Aceh mengadvokasi kasus eksekusi brutal berbuat kematian terhadap Muhammad Basri.

Kecuali membuka lapak payung di Kota Peureulak, almarhum juga kerap berjualan di pasar mingguan atau sering disebut ” Hari Pekan” di Keude Peunarun, pedalaman Aceh Timur.

Safrizal mengaku  dari tahun  2017-2018 bertetangga dengan Muhammad Basri karena almarhum sempat dua tahun mengontrak rumahnya di Jalan Tgk Abuchik Hasan Leuge Peureulak atau jalan ke Pesantren Asasul Islamiah milik almarhum Ayah Bukhari Hasan yang lebih dikenal dengan Ayah Leuge.

Sebelum tinggal dikontrakan milik Safrizal, keluarga Muhammad Basri telah lama menetap di Desa Leuge atau sejak tahun 2010, sehingga banyak warga Leuge yang mengenalnya. Baru tahun 2018 almarhum merantau ke Jakarta untuk merubah nasibnya. Dan ternyata ajal menjemputnya di ibukota negara itu.

Baca Juga:  Mayat Misterius di Bawah Jembatan Peureulak Ternyata Warga Langsa

Dalam kesehariannya, tambah Lia, istri Safrizal, kehidupan Muhammad Basri bersama istri dan anaknya tergolong berkecukupan. Malah untuk mendukung kelancaran usaha dagangannya, Muhammad Basri mengorder sebuah  mobil pickup.

Tidak diketahui pasti mengapa  Muhammad Basri  memilih pergi merantau ke Jakarta dan meninggalkan usaha jualan pakaian yang sudah lama digeluti.

Sebagai orang yang pernah menjadi tetangga almarhum, Safrizal mengaku sedih dengan kepergian Muhammad Basri untuk selamanya.

Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua anak. Anak pertamanya perempuan dan sekarang diperkirakan sudah usia SMA. Sedangkan anak kedua bernama Muhammad Fadhil yang usianya diperkirakan delapan tahun.

Dengan status hanya penyewa di Peureulak, berat dugaan jasad almarhum yang kini dalam perjalanan darat dengan ambulans dari Jakarta, akan dibawa ke Panton Labu, Aceh Utara, tempat kelahirannya, yang juga asal usul sang istri.

Penulis                 : Ridwan Suud (Aceh Timur/Kota Langsa)

Berita Terkini

Haba Nanggroe