30 Orang Tewas Korban Banjir Jabodetabek

  JAKARTA I ACEH HERALD.com Banjir besar yang melanda Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) beberapa saat menjelang pergantiah tahun, 31 Desember 2019 hingga Kamis (2/1/2020) malam telah menyebabkan 30 orang tewas. Tiga orang di antaranya tewas karena tertimbun longsor yang memporak-poranda rumah korban. Suara tangisan anak-anak dan ibu-ibu masih terdengar di mana-mana hingga … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

 

Inilah beberapa foto kenangan banjir yang melanda Jakarta dari masa ke masa yang kini banyak beredar di WhatsApp.

JAKARTA I ACEH HERALD.com

Banjir besar yang melanda Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) beberapa saat menjelang pergantiah tahun, 31 Desember 2019 hingga Kamis (2/1/2020) malam telah menyebabkan 30 orang tewas. Tiga orang di antaranya tewas karena tertimbun longsor yang memporak-poranda rumah korban.

Suara tangisan anak-anak dan ibu-ibu masih terdengar di mana-mana hingga hari ketiga pasca bencana banjir yang menghantam pemukiman penduduk ibukota dan sekitarnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terlihat langsung mendatangi dan turun ke pemukiman-pemukiman penduduk yang terendam banjir. Anies bahkan terlihat tidak segan-segan memeluk warganya yang sedang kedinginan di genangan air yang menghantam Jakarta.

Meski Gubernur Anies sudah berjalan ke sejumlah lokasi. Namun suara tangisan anak-anak masih terdengar dimana-mana, di antaranya di penampungan sementara keluarga korban  tewas dan sejumlah penampungan pengungsi yang tersebar di beberapa lokasi.

“Untuk bertahan hidup, kami sangat membutuhkan selimut, kamar mandi, air bersih, dan makanan,” kata sejumlah pengungsi seperti dilansir AcehHerald.com dari berbagai sumber, Kamis  (2/1/2020) malam.

Para pengungsi juga mengaku mereka belum berani kembali ke rumah, karena meski di beberapa pemukiman, genangan air sudah mulai surut. Tapi,   mengingat awan gelap masih menggantung di kawasan hulu sungai yang menjadi pemasok air untuk Jakarta menjadi mereka was-was untuk pulang.

Mereka tampaknya masih harus bertahan lama hidup di pengungsian. “Kami belum tahu kapan bisa kembali ke rumah,” kata seorang warga yang sudah dua malam menginap di penampungan pengungsi.

Dari beberapa sumber menyebutkan, ada sebagian penduduk di Ciledug yang bertahan di pengungsian untuk memudahkan mereka mendapat makanan bantuan. Sebab, kalau mereka tinggal di rumah, petugas akan mengalami kesulitan untuk mendistribusi makanan ke rumah-rumah yang masih digenangi air.

Baca Juga:  Kunjungi Eco Park, Anies Dielu-elu Warga dengan Yel-yel Presiden 2024

Penulis :  M Nasir Yusuf

 

Berita Terkini

Haba Nanggroe